Makhruzi Rahman dan Miguel’s Diving, Dua Pilar di Balik Kejayaan Wisata Selam Gorontalo

BANGJAGO.ID -

Gorontalo bukan sekadar tanah adat Hulondalo. Di balik perairannya yang tenang, tersimpan pesona bawah laut kelas dunia yang menakjubkan. Dari Taman Laut Olele hingga hiu paus Botubarani, perjalanan sejarah selam di Gorontalo adalah kisah panjang tentang cinta pada laut — dibentuk oleh tokoh-tokoh visioner seperti Makhruzi Rahman dan Miguel’s Diving.

Awal sejarah penyelaman di Gorontalo dimulai pada akhir 1980-an, ketika laut di kawasan Teluk Tomini masih menjadi laboratorium alam bagi para peneliti biota laut. Mereka menemukan berbagai jenis terumbu karang, ikan karang, dan spons laut unik seperti Salvador Dali Sponge, yang kini menjadi ikon bawah laut Gorontalo. Dari riset ilmiah inilah muncul kesadaran bahwa laut Gorontalo menyimpan potensi wisata luar biasa.

Gorontalo, surga tersembunyi penyelam dunia. Dari Makhruzi Rahman hingga Miguel’s Diving, semua bersatu menjaga laut tetap lestari.
Gorontalo, surga tersembunyi penyelam dunia. Dari Makhruzi Rahman hingga Miguel’s Diving, semua bersatu menjaga laut tetap lestari.
Sejarah selam Gorontalo membuktikan harmoni antara riset ilmiah, pariwisata, dan konservasi. Peran Makhruzi Rahman dan Miguel’s Diving menjadi tonggak penting dalam menjaga laut Sulawesi tetap berkelanjutan.
Sejarah selam Gorontalo membuktikan harmoni antara riset ilmiah, pariwisata, dan konservasi. Peran Makhruzi Rahman dan Miguel’s Diving menjadi tonggak penting dalam menjaga laut Sulawesi tetap berkelanjutan.
Awal sejarah penyelaman di Gorontalo dimulai pada akhir 1980-an, ketika laut di kawasan Teluk Tomini masih menjadi laboratorium alam bagi para peneliti biota laut.
Awal sejarah penyelaman di Gorontalo dimulai pada akhir 1980-an, ketika laut di kawasan Teluk Tomini masih menjadi laboratorium alam bagi para peneliti biota laut.

Tonggak besar wisata selam dimulai tahun 2003, dengan berdirinya Miguel’s Diving, operator selam profesional pertama di Gorontalo yang didirikan oleh Randal L. Michael. Operator ini berperan penting dalam memperkenalkan spot ikonik seperti Japanese Cargo Wreck, Sentinela Point, dan Honeycomb Coral Site ke dunia internasional. Miguel’s Diving juga dikenal sebagai pelopor eco-diving, melatih masyarakat lokal menjadi pemandu selam dan mengedukasi wisatawan tentang pentingnya konservasi laut.

Selain kontribusi dari sektor pariwisata, muncul pula sosok penting dari kalangan aparat keamanan laut: Makhruzi Rahman. Perwira Polri ini dikenal sebagai penyelam aktif dan penggerak konservasi bahari di Gorontalo. Selama menjabat sebagai Kapolres Boalemo dan Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Gorontalo, ia menggagas patroli terpadu untuk menindak penangkapan ikan dengan bahan peledak dan memperkuat kerja sama dengan komunitas penyelam.

“Laut bukan milik siapa pun. Tapi kalau kita semua menjaganya, laut akan terus memberi kehidupan,” ujar Makhruzi dalam Festival Pesona Olele.

BACA  Libur Sekolah Pengaruhi Lonjakan Arus Mudik Nataru, Dishub DKI Siagakan 2.500 Personel

Sebagai penyelam aktif, Makhruzi turut mendampingi masyarakat saat Taman Laut Olele dikembangkan menjadi kawasan wisata resmi. Ia membantu pelatihan dasar selam, pembentukan zona konservasi, dan memastikan kegiatan wisata tetap ramah lingkungan. Kini masyarakat pesisir Olele tak hanya hidup dari laut, tetapi juga menjadi penjaga ekosistem dan pemandu wisata bahari yang handal.

Geliat wisata bawah laut Gorontalo makin kuat berkat sejumlah event bahari nasional, seperti Festival Pesona Olele, Tomini Bay Festival, Sail Tomini 2015, dan Gorontalo Diving Festival (GDF). Rangkaian kegiatan ini mempertemukan ratusan penyelam dari berbagai daerah dan negara, serta menegaskan posisi Gorontalo sebagai destinasi selam unggulan di Indonesia Timur.

Kini, Gorontalo diakui sebagai salah satu surga selam terbaik di Indonesia. Keindahan Pulau Saronde, Olele Marine Park, dan Botubarani Whale Shark Point tumbuh di atas fondasi konservasi, kolaborasi, dan kecintaan masyarakat terhadap laut. Dari penelitian ilmiah hingga pelestarian modern, kisah Gorontalo adalah bukti bahwa menjaga laut berarti menjaga kehidupan.

“Menjaga laut berarti menjaga kehidupan.”

(YODI/BJ-01)