Kerusakan terumbu karang di perairan Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango pernah menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut Gorontalo. Dulu, kawasan ini disebut warga sebagai laut mati karena tak lagi terlihat ikan berenang. Namun kini, kondisi itu berubah drastis — warna biru laut kembali memantul indah, menandakan kehidupan baru di dasar laut.
Pemulihan ekosistem Botutonuo dimulai sejak tahun 2018 lewat program nasional rehabilitasi terumbu karang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dilaksanakan oleh Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Menurut Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si, Kepala Pusat Kemaritiman LPPM UNG, awalnya area tersebut dipilih karena tingkat kerusakannya yang parah.

“Awalnya karang di situ sudah banyak rusak, dan menurut masyarakat memang tidak ada ikan lagi. Itu sebabnya kami memilih Botutonuo,” tutur Prof. Femy, Jumat (17/10/2025).
Seiring waktu, metode rehabilitasi berkembang dari media balok beton menjadi rangka baja heksagonal (spider reef). Tahun 2024, sebanyak 150 unit tambahan dengan 1.050 fragmen karang Acropora berhasil ditanam. Hasil pemantauan menunjukkan tingkat hidup 100 persen dan pertumbuhan karang mencapai hampir satu sentimeter per dua bulan. Populasi ikan pun meningkat menjadi 740 individu dari 71 spesies.
Keberhasilan konservasi ini tidak lepas dari peran Alinton Pisuna, Ketua Kelompok Barrier Reef Botutonuo. Ia bersama 15 anggota kelompoknya rutin turun ke laut setiap akhir pekan untuk memantau dan merawat karang muda.
“Dulu waktu saya kecil, terumbu karang di sini indah sekali… Tapi lama-lama semua rusak. Ada pengeboman dan wisata yang merusak karang,” kenangnya.
Atas dedikasinya, pada 2024 Alinton dianugerahi gelar “Local Hero Konservasi Laut” oleh KLHK — penghargaan pertama bagi masyarakat Gorontalo di bidang konservasi laut.
Tak hanya masyarakat dewasa, semangat menjaga laut juga menular ke anak-anak. Sekolah seperti Brillikids Leadership Elementary School aktif mengirim siswanya untuk belajar menanam karang langsung di laut. Kepala Sekolah Ika Rahmawati Hadikum mengatakan, “Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar di kelas, tapi juga punya empati pada alam. Karena itu, kami ajak mereka menanam terumbu karang bersama Pak Alinton.”
Dukungan juga datang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo. Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut, Syafrie A.B. Kasim, menegaskan Botutonuo telah ditetapkan sebagai zona konservasi prioritas. Pemerintah daerah bahkan memfasilitasi bantuan alat selam dan pelatihan monitoring biofisik agar masyarakat dapat memantau sendiri kesehatan lautnya. Kini, dari dasar laut Botutonuo, suara kehidupan baru kembali terdengar — bukti bahwa kolaborasi antara ilmu, pemerintah, dan masyarakat mampu menghidupkan kembali laut yang dulu mati.








